Sabtu, 16 November 2019

Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun, Tuan Guru Syekh Besilam Meninggal Dunia


Sebaris365 - Pemimpin Tharikat Naqsybandiah Babussalam tuan Guru Syekh H. Hasyim Al-Syarwani atau lebih dikenal Tuan Guru Hasyim meninggal dunia, Sabtu menjelang siang (16/11/2019)

Ulama Kharismatik ini menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Kolombia setelah beberapa hari dirawat atas sakit dideritanya.

Informasi ini meninggalnya Guan Guru Hasyim disampaikan oleh orang terdekatnya yang turut mendampinginya saat dirawat di RS Kolombia.

"#KABARDUKA..

Innalillahi wa innailaihi roji'un.
Telah berpulang ke rahmatullah Tuan Guru Besilam Langkat Sumatera Utara, SYEKH H. Hasyim Al Syarwani, Sabtu, 16 November 2019.

Mohon doanya dari kita semua dimanapun berada, Semoga Tuan Guru diberikan tempat yang mulia di sisi Allah Subhana Wata’ala.
Aamiinn Yaa Rabbal Aalamiinn..

Tuan Guru Syekh H. Hasyim Al-Syarwani,"  tulisnya melalui pesan singkat.

Syekh Hasyim Pernah Beri Jokowi Sorban Kehormatan

Presiden Joko Widodo bersilaturahim dengan Syekh Haji Hasyim Al-Syarwani di kediamannya, Kampung Besilam, Kecamatan Padang Tualang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Sabtu (29/12/2018).

Syekh Hasyim adalah pimpinan Pondok Pesantren Tuan Guru Babussalam, tarekat Naqsabandiyah terbesar di Asia Tenggara.

Usai menempuh sekitar dua jam perjalanan darat dari Kota Medan, Presiden beserta rombongan tiba di Kampung Besilam, kediaman Syekh Hasyim, pukul 14.45 WIB.

Selain dua ribuan warga, Syekh Hasyim beserta ulama pondok pesantren juga turut menyambut kedatangan Presiden Jokowi.

Presiden didampingi Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi dan Syekh Hasyim didampingi para ulama bersilaturahim di rumah panggung beralas papan kayu yang dilapisi karpet.

Syekh Hasyim mengawali acara itu dengan mengalungkan sorban kehormatan berwarna putih di leher Presiden Jokowi.

"Terima kasih," kata Jokowi.

Acara silaturahim berlangsung tertutup dari media massa.

Namun Gubernur Edy dalam kata pengantarnya mengatakan bahwa silaturahim Presiden ini adalah dalam rangka memajukan Provinsi Sumatera Utara.

"Kami mohon doa dan kami Insya Allah, khususnya Sumatera Utara, akan lebih baik," ujar Edy.

Ulama yang hadir dalam silaturahim itu, antara lain Haji Mahlil Ywr dan Haji Irfansyah.

Sementara Presiden Jokowi sendiri, selain Edy, juga didampingi oleh Menteri Sekretaris Negara Pratikno dan Staf Khusus Presiden Ari Dwipayana.

Sekilas Thariqat Naqsyabandiah yang Dipimpun Syekh Hasyim

Dikutip dari Wikipedia Thariqat Naqsyabandiah berpusat di Besilam, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. 

Kampung ini pertama sekali dibangun oleh Almarhum Tuan Guru Syekh Abdul Wahab Rokan atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tuan Guru Babussalam.

Ia adalah seorang Ulama dan pemimpin Tarekat Naqsabandiyah.

Di desa ini terdapat makam Syekh Abdul Wahab Rokan yang dikenal juga dengan Syekh Besilam yang merupakan murid dari Syekh Sulaiman Zuhdi di Jabal Qubais Mekkah.

Tampak sekilas, desa Besilam mirip dengan sebuah pesantren yang terpencil, teduh, asri dan damai.

Terlihat ada Mesjid utama dan sebuah bangunan berkubah lengkung disebelah masjid, sebuah bagunan utama dari kayu hitam yang besar dengan gaya rumah panggung serta beberapa bangunan tambahan lainnya.

Selain terdapat makam dia, dikampung ini juga merupakan pusat penyebaran Tharikat Naqsybandiah Babussalam yang sekarang dipimpin oleh tuan Guru Syekh H. Hasyim Al-Syarwani atau lebih dikenal Tuan Guru Hasyim.

Nama lengkap Syeikh Abdul Wahhab bin `Abdul Manaf bin Muhammad Yasin bin Maulana Tuanku Haji Abdullah Tembusai. Lahir 19 Rabiulakhir 1230 H/28 September 1811 M).

Wafat di Babussalam, Langkat, pada hari Jum'at, 21 Jamadilawal 1345 H/27 Desember 1926 M.

Ayahnya bernama Abdul Manaf bin Muhammad Yasin bin Maulana Tuanku Haji Abdullah Tambusei, seorang ulama besar yang 'abid dan cukup terkemuka pada saat itu, sedangkan ibunya bernama Arbaiyah binti Datuk Dagi bin Tengku Perdana Menteri bin Sultan Ibrahim yang memiliki pertalian darah dengan Sultan Langkat.

Syekh Abdul Wahab meninggal pada usia 115 tahun pada 21 Jumadil Awal 1345 H atau 27 Desember 1926 M.

Salah satu kekhasan Syekh Abdul Wahab dibanding dengan sufi-sufi lainnya adalah bahwa ia telah meninggalkan lokasi perkampungan bagi anak cucu dan murid-muridnya.

Daerah yang bernama "Babussalam" atau "Besilam" ini dibangun pada 12 Syawal 1300 H (1883 M) yang merupakan wakaf muridnya sendiri Sultan Musa al-Muazzamsyah, Raja Langkat pada masa itu.

Disinilah ia menetap, mengajarkan Tarekat Naqsyabandiyah sampai akhir hayatnya.

Di sela-sela kesibukannya sebagai pimpinan Tarekat Naqsyabandiyah, Syekh Abdul Wahab masih menyempatkan diri untuk menuliskan pemikiran sufistiknya, baik dalam bentuk khutbah-khutbah, wasiat, maupun syair-syair yang ditulis dalam aksara Arab Melayu.

Tercatat ada dua belas khutbah yang ia tulis dan masih terus diajarkan pada jamaah di Babussalam.

Sebagian khutbah-khutbah tersebut, enam buah diantaranya diberi judul dengan nama-nama bulan dalam tahun Hijriyah yakni Khutbah Muharram, Khutbah Rajab, Khutbah Sya'ban, Khutbah Ramadhan, Khutbah Syawal dan Khutbah Dzulqa'dah.

Dua khutbah lain tentang dua hari raya yakni Khutbah Idul Fitri dan Khutbah Idul Adha. Sedangkan empat khutbah lagi masing-masing berjudul Khutbah Kelebihan Jum'at, Khutbah Nabi Sulaiman, Khutbah Ular Hitam dan Khutbah Dosa Sosial.

Karya tulis Syekh Abdul Wahab dalam bentuk syair, terbagi pada tiga bagian yakni Munajat, Syair Burung Garuda dan Syair Sindiran.

Syair Munajat yang berisi pujian dan doa kepada Allah, sampai hari ini masih terus dilantunkan di Madrasah Besar Babussalam oleh setiap muazzin sebelum azan dikumandangkan.

Walaupun Tuan Syekh Abdul Wahab Rokan bukanlah sosok yang terkenal dalam pergerakan melawan imperialisme Belanda, tapi ia aktif dalam mengarahkan strategi perjuangan non fisik sebagai upaya melawan sistem kolonialisme.

Ia mengirim utusan ke Jakarta untuk bertemu dengan H.O.S. Tjokroaminoto dan mendirikan cabang Syarikat Islam di Babussalam di bawah pimpinan H. Idris Kelantan.

Nama Tuan Syekh Abdul Wahab Rokan sendiri tercantum sebagai penasihat organisasi.

Dia juga pernah ikut terlibat langsung dalam peperangan melawan Belanda di Aceh pada tahun 1308 H.

Sebagai seorang yang sangat dipuja pengikutnya, Tuan Syekh Abdul Wahab Rokan cukup dikeramatkan oleh penduduk setempat.

Sejumlah cerita keramat tentang dia yang cukup populer di kalangan masyarakat Langkat, diantaranya pada suatu masa pihak Belanda merasa curiga karena ia tidak pernah kekurangan uang.

Lantas mereka menuduhnya telah membuat uang palsu.

Ia merasa sangat tersinggung sehingga ia meninggalkan Kampung Babussalam dan pindah ke Sumujung, Malaysia.

Sebagai informasi, pada saat itulah kesempatan dia mengembangkan tarekat Naqsabandiyah di Malaysia. Selama kepergiannya itu, konon sumber-sumber minyak BPM Batavsche Petroleum Matschapij (sekarang Pertamina) di Langkat menjadi kering.

Kepah dan ikan di lautan sekitar Langkat juga menghilang sehingga menimbulkan kecemasan kepada para penguasa Langkat.

Akhirnya ia dijemput dan dimohon untuk menetap kembali di Babussalam.

Setelah itu sumber minyak pun mengalir dan ikan-ikan bertambah banyak di lautan. Kaum buruh dan nelayan senang sekali.

Sesudah dia wafat, banyak orang yang berziarah dan bernazar ke kuburnya.

Bertepatan dengan hari wafat Tuan Guru Syeikh Abdul Wahab Rokan diadakan acara haul besar peringatan wafat Tuan Guru Pertama, yakni pada tanggal 21 Jumadil Awal setiap tahunnya.

Pada saat acara inilah datang ribuan murid dan peziarah dari seluruh pelosok Asia dan Indonesia ke Besilam. Di hari pertama dan kedua haul, pada malam hari seusai salat Isya, para khalifah (sebutan pengikutnya) dan peziarah melakukan dzikir di depan makam Tuan Guru Syeikh Abdul Wahab Rokan.

Peziarah datang ke sini selain untuk mengikuti acara dzikir bersama di makam Tuan Guru, juga bersilaturahmi dengan penerus Tuan Guru Besilam.

Di saat ini pulalah desa Besilam yang biasanya teduh dan tenang mendadak menjadi sibuk karena datangnya ratusan bis ke sana membawa ribuan wisatawan, khalifah dan peziarah.

0 komentar:

Posting Komentar